23; Sebuah Rasa dan Segenggam Mimpi


Tak seperti pagi biasanya, hari ini gadis yang duduk di depan laptop yang menyala itu tidak ditemani segelas kopi. Pagi ini dia bersama segelas cokelat panas. Sudah seminggu lebih ia tak lagi sekolah karena menunggu hasil kelulusan sekolahnya dan hanya berdiam diri di rumah sambil melakukan hal-hal yang sekiranya bermanfaat untuknya.

Seperti pagi sebelumnya laptop yang menyala itu menampilkan halaman sebuah web belajar online, dia – Rani, sedang memperhatikan video berisi soal-soal yang sedang dijelaskan oleh mentor web tersebut. Rani melirik kearah jam yang berada di pojok bawah tampilan laptopnya. Sudah dua jam setengah dia belajar pada hari ini dan itu membuat kepalanya pusing karena memperhatikan layar terus menerus. Akhirnya setelah menyelesaikan menonton soal yang sedang dijelaskan oleh mentor, dia memilih untuk menutup tab tersebut dan membiarkan laptopnya seperti itu saja, kemudian berdiri untuk merenggangkan tubuhnya dan membawa cangkir cokelat panasnya yang telah kosong ke dapur. Karena hujan yang masih awet turun membuatnya malas bepergian kemana-mana dan memilih untuk dirumah saja.

Dia kembali ke kamar dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur, dan mengecek notif yang sibuk membuat ponsel nya bergetar terus menerus, ternyata berasal  dari grup Ekskul Jurnalistik, eksul yang diikutinya. Rani segera membaca isi percakapan grup yang berisikan belasan  orang tersebut.

Bianka RF: pagi para rakyatku
Zidan Alif: pagi sayang.
Latifha: tumben idup lu @.Zidan Alif
Zidan Alif: pc aja kalo kangen tif :)
Raihan: et ketau1
Latifha: pig
Bianka RF: pacaran aja deh
Bianka RF: eh jangan deh ntar ldr
Karina: anjer
Bianka RF: manteman ku, karna bentar lagi kita pisah jadi gue mau ngajakin dugem dugeman dirumah gue mau nggak
Anton: wow
Karina: dugem dugem dugem kuy
Raihan: wkwk seriusan bi?
Yusuf Muhammad: apaan sih Bi
Bianka RF: yakali -_- @.Raihan @.Yusuf Muhammad
Bianka RF: Nyokap gue ngajak bbq an dirumah hari sabtu ini dateng ya, khususnya yang cewe plis dtg dong pajama party asik kali nih
Anton: yg cowok ikutan pajama2annya gak
Karina: gelo
Bianka RF: dah itu doang, pokoknya harus ada yang dateng walaupun cuma sebiji
Yusuf Muhammad: insyaallah bi
Akbar Maulana: (2)
Amelia Fransiska: KUY KUY KUY
Latifha: gue gabisa keknya Bi, bimbel deh
Karina: makan gratis nih guys dateng lah
Raihan: gue oke
Andre: Futsal gue, sparring sama alumni
Bianka RF: yg read bales dong

            Dan sisanya hanya jawaban dari ajakan Bianka. Rani mengecek kalender hari ini hari rabu, berarti tiga hari lagi dan berarti itu tanggal 23. Rani mengelengkan kepala, sepertinya dia wajib pergi pada tanggal itu.
Nayla Maharani: gue dtg deh bi
Bianka RF: sip banget ran
Bianka RF: tanggal 23 ya guys! WAJIB banget dateng buat yang cewek. Gadateng fix musuhan.
Latifha: did u mention 23, bi?
Bianka RF: iya, kenapa emg?
Karina: EH IYA TGL 23 YA? WKWKWK.
Latifha: tanggal 23 kan hari bersejarahnya mantan wakil ketua MESIS!!!
Karina: tanggal bersejarah banget donggg
MESIS atau Media Siswa adalah nama lain dari Ekstrakulikuler Jurnalistik, Mading dan Fotografi yang digabung menjadi satu, dan omong-omong, Rani adalah wakil ketua ekskul ini, pada angkatannya.

Rani atau Nayla Maharani menghela napas melihat balasan chat Latifha yang mengungkit tanggal 23, yang disebutnya hari bersejarah Rani itu.

Nayla Maharani: jangan mulai deh,

Segera setelah membalas itu Rani mematikan notifikasi obrolan grup tersebut agar tidak mengganggunya dan menaruh lagi ponselnya ke kasur kemudian dia menuju meja belajarnya dan duduk didepan laptopnya kembali yang tengah menyala menampilkan sebuah gambar dirinya yang memegang sebuah piagam dengan latar sekolahnya.

Hari itu adalah hari yang menyenangkan untuk Rani,  setelah mengikuti sebuah pelatihan tentang jurnalistik dia berhasil membawa penghargaan untuk dirinya dan sekolahnya dalam acara tersebut.
Tepatnya pada hari Senin di bulan Februari, hari dimana dia berkenalan dengan pemuda yang memiliki senyum yang menawan.

“Salah satu murid sekolah kita mendapatkan suatu penghargaan yang membanggakan pada saat pelatihan Jurnalistik yang diadakan di Universitas UYI yaitu, termasuk kedalam peringkat 3 besar calon jurnalis muda terbaik dan dipilih langsung oleh Bapak Azrul Ananda pimpinan dari Jawa Pos, silahkan maju kedepan Nayla Maharani kelas 11 IPA 2.”

Semua siswa bertepuk tangan memberikan apresiasi atau setidaknya hanya ikut-ikutan. Rani, yang namanya disebut itu berjalan keluar dari barisan upacara setelah berterima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan ucapan kepadanya. Setelah berhasil berdiri di depan lapangan, Rani segera menyalim dan memberikan senyuman kepada seluruh guru yang ada dan berdiri menghadap kearah peserta upacara, menunggu diberikan piagam dan diajak foto bersama kepala sekolah atau wakilnya.
“Kemudian ada lagi yang memenangkan Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, silahkan maju kedepan M. Alvi Insani kelas 11 IPS 1.” Tanpa menunggu lama si pemilik nama yang namanya disebut muncul dari balik barisan dan berdiri tepat disamping Rani dan sempat memberikan Rani senyuman kecil.

Kemudian setelah kepala sekolah memberikan piagam kepada Rani dan cowok disebelahnya dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berfoto bersama, kemudian kepala sekolah itu memberikan salam kepada mereka dan kembali ketempat awalnya. Rani segera menggerakkan kakinya untuk kembali ke barisan asalnya tetapi sesuatu menahannya.

“Eh, Ran bentar dong mau di fotoin nih bareng Alvi buat dokumentasi mingguan mading.”
“heh? Iya ya? Oke deh,”
Setelah selesai berfoto, Rani segera berlari kembali ke barisan awalnya tanpa pamit ke Raihan, yang bicara tadi, dan Alvi.
Pria yang bernama Alvi tadi mengernyit dan menatap Raihan dengan pandangan bertanya.
“Emang gitu tu anak, Vi. Rada pemalu gitu. Yuk balik.” Kemudian mereka berdua kembali ke barisan mereka yang masing-masing.

;;;
Bel istirahat telah berbunyi dari lima menit yang lalu, dan kini Rani bersama teman tengah berada di pinggir lautan manusia yang sedang sibuk berdesak-desakkan untuk mendapatkan makanan, sama sepertinya.

“Ran, lu disini aja jagain ni tempat gue yang mesen, batagor kan?” Rani mengangguk membalas perkataan Firda dan segera duduk.

Setelah kepergian Firda, Rani sibuk dengan ponsel pintarnya. Membuka aplikasi Instagram miliknya dan melihat-lihat isi Timeline nya.

“Boleh duduk disini?”

Rani mengalihkan perhatiannya dari ponsel pintarnya, dan mendapati cowok yang berdiri disampingnya saat pembagian penghargaan tadi pagi, Alvi.

“Boleh. Tapi nanti ada temen gue juga.” Balasnya kemudian menoleh mencari temannya tadi.

“Alvi, sebelas IPS 1.” Alvi menyodorkan tangannya kearah Rani.

“ha?”

“Kenalin nama gue Alvi dari kelas sebelas IPS 1.” Ulangnya lagi, masih mempempertahan posisi tangannya. Rani membalas uluran tangan Alvi sambil memperkenalkan namanya ke cowok itu.

“oh, Rani kelas sebelas IPA 2.”

Jawaban Rani membuat kernyitan di dahi Alvi.

“Kenapa?”

“Bukannya tadi pas dipanggil nama lo Nayla?”

“Iya nama aslinya Nayla Maharani. Dipanggil Rani, yang diujung yang diambil.” Jelasnya.

“Oooh Rani. Yaudah temen lo mau kesini, gue duluan ya, daah Ni.”

Alvi langsung berdiri dari duduknya dan tersenyum sebentar kemudian berjalan kearah berlawanan dengan datangnya Firda.

“Ngapain dia disini tadi Ran?” Tanya Firda setelah menaruh nampan yang berisi makanan mereka dan duduk ditempat yang diduduki Alvi tadi.

“Hm, gapapa. Cuma kenalan.” Jawab Rani sekenanya.

;;;
Hari ini Rani pulang sedikit terlambat karena habis rapat ekskul. Tiga hari setelah kejadian berkenalan dengan Alvi.

Rani yang seharusnya sudah harus keluar gerbang sekolah kembali lagi kedalam ketika mengingat barangnya yang tertinggal didalam ruangan Mesis. Ruangannya terletak bersebelahan dengan Perpustakaan sekolah.

Setelah mengambil powerbank, barangnya yang tertinggal itu. Rani kembali mengunci pintu tersebut.

“Rani.”

Panggilan itu membuat Rani menolehkan kepalanya kearah asal suara dan mendapatkan Alvi tengah berdiri di depan perpustakaan sambil menenteng tas dan sebuah buku tebal bewarna cokelat. Entah buku apa.

“Alvi.” Balas Rani sambil mengangguk.

“Belum pulang?”

Pertanyaan Alvi disambut gelengan oleh Rani, “Abis rapat. Lo?”

“Dari dalem minjem buku. Kedepan bareng?” tawar Alvi sambil menyantong tasnya.

“Boleh.”

Mereka berdua berjalan beriringan kedepan dengan Rani yang canggung tak tahu harus apa.

“Pulang kemana, Ni?”

“Daerah perumahan srirahayu, Vi.”

“Ohh, deket rumah tante gue. Lain kali gue mampir ya,”

Alis Rani mengernyit, apa selalu begini sifat anak IPS? Sangat mudah bersosialisasi?

“Becanda kok, dah ya, Ni gue mau ke parkiran. Sampai jumpa lagi.”

Rani mengangguk sebagai balasannya. Dan berjalan kedepan gerbang menunggu sopirnya datang.

;;;
Hubungan Rani dan Alvi pun bertambah dekat setiap waktunya, tetapi hanya disekolah. Karena mereka saling sapa saat bertemu dan sekedar bertukar senyum dan percakapan-percakapan kecil disekolah dan beberapa kali berbagi meja makan saat di jam istirahat, mereka tak saling memiliki kontak masing-masing. Tak ada yang spesial diantara mereka, setidaknya belum.

Sudah dua hari terakhir ini Rani tak masuk sekolah karena sakit. Dan sudah satu jam sejak kedatangan teman-teman dekatnya tadi. Kini dia kembali sendirian. Jam di kamarnya menunjukkan pukul 4 sore.

Omong-omong, Rani belum membuka ponselnya dari saat kedatangan teman-temannya. Betapa terkejutnya dia mendapati pesan dua panggilan tak terjawab via Line dari kontak bernama Alvi 
Insani.

Rani langsung membuka obrolan dan membalas panggilan Alvi dengan balasan pesan saja, sebelum itu dia meng add back kontak Alvi.

Nayla Maharani: mbb vi, ada apa?
Alvi Insani: kata temen sekelas lo, lo sakit? gue mau mampir blh ngga?
Alvi Insani: etapi kalo ngga boleh hari ini gpp lain kali aja

Ha? Yang benar saja, kalau Alvi datang sendiri sepertinya akan canggung sekali. Bagaimanapun Rani tak pernah di kunjungi oleh cowok sendirian.

Duh, harus bagaimana?

Tapi kalau menolak, rasanya Rani tidak tega, bagaimana pun niat Alvi baik, ingin menjenguk orang 
sakit.

Nayla Maharani: boleh kok vi.
Alvi Insani: oke. alamatnya?

Setelah memberi alamat rumahnya, Rani berdiri dari rebahannya. Walaupun sedang sakit setidaknya Rani harus tak tampak kucel.

Berjalan menuju kamar mandi di kamarnya, Rani segera membasuh mukanya dan kembali ke kasurnya. Dia melihat-lihat keadaan kamarnya sebentar, sepertinya tak terlalu kelihatan kotor hanya berantakan di kasurnya saja. Rani kembali rebahan ke kasurnya dan menarik sebuah novel dan berniat membacanya sampai Alvi datang.

Tak lama itu Mbak Irma, ART rumahnya mengetuk pintu kamar Rani dan berkata ada temannya yang ingin menjenguk. Kemudian masuklah cowok dengan pakaian sekolah dan dibalut jaket baseball bewarna biru. Pintu kamar dibiarkan tak tertutup rapat.

“Hai Ni.” Sapa Alvi sambil menaruh kantung plastik yang dibawanya ke meja belajar Rani.

“Kutaruh disini ya, Ni.” Alvi berjalan mendekat kepada Rani yang tengah duduk dikasur sambil memangku sebuah novel, dan menarik sebuah kursi ke samping kasur Rani dan mendudukinya.

“Udah baikan Ni? Sorry banget baru tau kalo lo sakit.”

“err, gapapa kok. Kok masih pake seragam sekolah Vi?”

Dan mulailah percakapan mereka dari sekedar menanyakan kegiatan dua hari ini sampai membahas kedai kedai kopi yang semakin mudah ditemui. Intinya, percakapan mereka bermacam-macam dan saling nyambung.

Dan tanpa disadari sudah setengah jam Alvi di kamar Rani. Rani tertawa ketika Alvi melempar lelucon mengenai salah satu guru Olahraga di sekolah.

“Iya, Bapak itu bilang sendiri kayak gitu. Dia bilang Agung Hercules itu dapet otot-otot gede gara-gara dia yang ngajarin. Mana pas bilang itu dia sambil meragai otot-ototnya yang ga seberapa itu.”

Dan lagi Rani tertawa gara-gara hal sepele yang diucapkan Alvi. Sampai tak sadar saat Alvi memotretnya yang tengah tertawa puas.

Setelah puas tertawa Rani menatap Alvi yang hanya tersenyum sambil menatapnya.
Duh, Rani tak kuat ditatap lama seperti itu.

“Ni,” hanya deheman yang menjawab. Karena Rani tengah menunduk menghindari tatapan Alvi.

Setelah keheningan yang dirasa cukup mencekam bagi Rani, Rani mendongakan kepalanya menatap Alvi yang sepertinya menunda perkataannya sebelum mendapatkan Rani menjawabnya.

“Aku suka sama kamu.” Pupil Rani melebar tak percaya pada pendengarannya.

“ha?”

“Rani, aku, Alvi suka sama kamu.” Tambah Alvi.

Seperti enggan percaya Rani kembali bertanya.

“m-maksudnya?”

“Maksudnya. Aku suka sama kamu.” Muka Rani kembali memerah.

“Iya aku denger tadi. Maksudku kenapa bisa suka? Duh gimana ya, aku, eh gue, eh kita kan ga terlalu banyak ngobrol.” Ucap Rani sambil membalas tatapan hangat dari Alvi. Rani kembali menautkan tangannya pertanda dia gugup.

“Ngga ada alasan buat rasa suka, Ni. Dan aku menyatakan perasaan ku bukan ingin mengikat kamu, aku cuma ingin jujur. Aku ngga mau bohong, aku tertarik sama kamu dari awal kita tatapan. Dan aku terus berupaya buat selalu memastikan bahwa perasaan ini asli. Dan yah, ini asli.”

Astaga! Dalam hidup Rani belum pernah dia merasa sangat bahagia hanya karena mendengar penuturan seseorang yang tak terlalu dekat dengannya dalam tahap seperti ini.

Alvi berdiri dari duduknya dan tak lupa mengembalikan kursi tadi ketempat awalnya.

“Udah ngga usah dipikirin, aku cuma ingin menyatakan perasaanku, ngga harus dijawab itu bukan pertanyaan kok.”

Alvi berdiri sambil tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Duh, ngeselin!

“Aku pulang ya, Ni. Jangan lupa istirahat yang cukup dan minum obat.”

“Gue anter kedepan.” Sambil berusaha mengeluarkan kakinya dari selimut yang menutup tubuhnya tetapi ditahan oleh tangan Alvi yang menyentuh bahunya.

“Gausah, disini aja.”

Alvi membenarkan posisi selimut Rani yang hampir jatuh dan mengacak rambut perempuan itu yang mengakibatkan Rani membatu ditempat.

Setelah pintu kamar yang tertutup dengan rapat. Rani segera turun dari kasur sambil berjalan menuju pintu kamar, tapi dia ragu untuk membuka nya. Dan memutuskan untuk kembali ke kasur saja, tetapi matanya menatap kantung plastik di atas meja belajarnya dan membukanya.

Berisi makanan manis dan camilan-camilan lainnya dan terdapat kertas kecil yang bertuliskan.

Cepat sembuh Nini Bear.
-A

;;;
Dimulai dari saat itu, hubungan Alvi dan Rani berjalan seperti sepasang kekasih. Ya bisa dibilang begitu. Karena setelah uring-uringan dan bahagia di waktu bersamaan, Rani langsung mengirim pesan kepada Alvi yang berisi pernyataan perasaannya kepada sang empu.

Alvi, maaf terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku juga suka kamu. Aku rasa perasaanku padamu juga asli sebagaimana perasaanmu padaku.

Ya seperti itulah awal hubungan percintaan Rani dengan Alvi. Tulus dan kuat. Setidaknya tidak ada yang bisa memisahkan mereka selain semesta yang sedang ingin bermain-main pada hubungan mereka.

Hari ini tepat tanggal 23, hari sabtu, pukul 7 malam. Hari dimana Bianka mengajak anak Mesis kumpul setelah satu bulan semenjak hari kelulusan dan satu minggu setelah ujian SBMPTN di adakan.

Rani tengah membalik daging yang tengah dipanggang, pundak Rani disentuh oleh Karina, salah satu yang datang.

“Gantian dong Ran, kasian gue ngga ngapa-ngapain ini dari tadi selain makan.”

“Terus gue ngapain?”

“Ya makan lah. Lo dari tadi belum nyentuh makanan kan? Syuh syuh makan sana. Calon Professor ga boleh capek.” Ujar Karina sambil mengusir Rani menggunakan kipas.

“Professor apaan? Kuliah aja belom. Tapi aminin aja deh. Dah Rin,” Rani lantas berlari kecil menuju teman-temannya yang lain.

Ada 3 teman pria nya yang sedang main game sambil makan-makan. Dan dihadapan mereka ada 4 teman perempuan nya tengah bergosip. Mereka semua duduk beralaskan tikar. Dan dia melihat sang tuan rumah sedang berjalan menujunya sambil membawa plastik yang dia tebak isinya adalah arang.
Rani berjalan menuju teman-temannya yang tengah bergosip itu.

“Gosip apa kali ini wan kawan.” Rani segera memposisikan diri di hadapan mereka
Latifha langsung menjawab pertanyaan Rani, “Pasangan yang putus pas tamat sekolah. Lo termasuk nih, Ran, hehehe.”

Kemudian tanpa dikomando mulut-mulut para perempuan itu kembali bergosip, dan Rani sebagai pendengar saja sambil makan tentunya, hehe.
Kemudian datang dua orang lagi duduk di dekat mereka, yang diketahui itu adalah Bianka dan Karina. Mereka ikut mengobrol dan langsung menggebu-gebu saat sibuk membicarakan alasan-alasan kandasnya salah satu pasangan kekasih tahun mereka.

“Btw nih Ran. Mon map banget, tapi keknya lo sama Alvi gamungkin banget deh putus gegara gabisa Ldr doang?” ucap Bianka. Duh ratu gossip dia ini.

“uhuk.uhuk. ha? Apaan, kok bawa-bawa gue?” Rani kembali menaruh kaleng minumannya 
disamping piringnya yang sudah kosong.

Yusuf, sang ketua Mesis pun melanjutkan perkataan Bianka. “Iya nih Ran, perasaan tanggung amat kalian putus. Dua minggu sebelum UN lagi.”

“Apasih kepo banget kalian.” Ujar Rani sambil menjulurkan lidahnya.

“Huuu pelit banget, gossip disimpen sendiri.” Balas Latifha.

“Biarin dong. Kan gue wakil ketua.”

“Iyadeh buk wakil.” Ucap Karina. Dan kemudian mereka beralih membahas tentang kampus dan impian-impian mereka kedepannya.

Pikiran Rani kembali ke saat dia dan Alvi memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

;;;
Tak ada perselisihan besar diantara mereka sebelumnya, namun hari ini nampak berbeda, hari ini, hari minggu tepat seminggu setelah mereka merayakan hari jadian mereka ke 11 bulan.

Dimulai dari Alvi yang berkata bahwa mungkin dia akan pindah ke luar negeri dan melanjutkan study disana sampai keinginan Alvi tentang bagaimana dia ingin Rani ikut padanya.
Rani tidak bisa, tentu dia belum bisa meninggalkan orang-orang terkasihnya disini, kemudian Rani bertanya, kenapa tidal Alvi saja yang disini dan meninggalkan keluarganya? Jawaban yang persisi seperti jawaban Rani pun keluar dari mulut Alvi.

Setelah sibuk mencari-cari alasan dan sibuk mencari solusi yang bisa menyelamatkan kedua belah pihak. Entah siapa, mengeluarkan kartu terakhir yang mereka belum pernah bahas sebelumnya, putus.

Diam menghampiri mereka.

Dan setelah merundingkan keputusan dengan baik-baik. Mereka memilih pilihan terakhir itu. Pilihan yang mungkin menyakiti mereka berdua tetapi bisa membuat mereka bahagia setelahnya.

Pilihan yang dapat mendewasakan kedua belah pihak.

Dan mereka saling mengucapkan janji tanpa suara,

Perasaan mereka untuk satu sama lain takkan berubah, dan jika memang semesta sudah selesai bermain dengan mereka. Mereka akan kembali kepada pemilik asli perasaan itu.
;;;

Ya, biarlah hanya Rani dan Alvi sajalah yang tahu alasan dibalik mengapa kata putus ada di antara mereka.

Melepas apa yang kelihatan sangat mudah untuk dipertahankan dan menukarnya kepada mimpi-mimpi yang sudah mereka rancang sebelum perasaan itu sama-sama tumbuh dihati mereka.

Mimpi mereka masih sangat panjang, dan perasaan bisa menunggu.

TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam ini

Rekomendasi Penulis Wattpad Favorit!!!